Tulisan perak kembali menghias
kali ini tinta itu kembali bertahta di atas kemegahan
kilaunya terkadang menyejukkan
goresannya terkadang menghangatkan
dia ternama atas kepercayaan
namun setelah mentari tiba
kegentiran merah mulai terbaca
debu kegelisahan bertiup kencang
sampai decak gerimis bergumam
landasan kepercayaan mulai retak
nista itu menghujam di dada
bagai memakan duri dari tangan sendiri
apakah salah jika kita mengadu?
apakah salah jika batu-batu ikut berteriak hentikan !!
percuma ,,
hampanya dada tidak akan hilang oleh buainya cahaya
hitam putih kisah akan terus jadi cerita
cerita yang hanya Dia yang tahu obatnya